Globalisasi, Teknologi dan Nasionalisme Baru

Globalisasi sebagai sebuah kondisi mensyaratkan kekuatan karakter pada setiap individu anak bangsa agar tidak tergerus dan hanya menjadi penonton tanpa punya peran yang bermanfaat bagi diri sendiri , bangsa , negara dan agama. Tanda – tanda penjajahan bangsa lain melalui globalisasi kepada generasi muda bangsa Indonesia sudah sangat jelas dan mulai memperlihatkan dampaknya, dimana kecenderungan gaya hidup individualis dan konsumtif lebih dominan dibanding gaya hidup bersosial dan produktif. Hal tersebut merupakan pengingkaran terhadap karakter jatidiri bangsa Indonesia dengan sifat gotong royong dan saling asah asih asuh dan rajin bekerja.

Penjajahan tersebut melalui muatan-muatan konten media di Internet dan media massa cetak , elektronik dan online. Ada yang berupa lirik lagu, film, kartun, komik dan lain sebagainya yang nilai – nilai kontennya jauh dari nilai-nilai Pancasila. Padahal Indonesia kaya akan perbedaan suku, agama , ras dan etnis sehingga jika jauh dari jatidiri Bangsa yaitu Pancasila maka sudah pasti anak-anak bangsa akan kehilangan arah dan terpancing saling hantam.

Ditambah lagi masuknya budaya asing gaya hidup penggunaan Narkotik dan Obat Terlarang (Narkoba) seolah sudah menjadi bagian dari generasi muda Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat pemuda/I kita menjadi generasi yang rusak mental dan moralnya. Tidak produktif , malas-malasan dan sakit-sakitan, akhirnya Indonesia menjadi Negara yang lemah dan tidak punya masa depan.

Hilangnya karakter jadi diri bangsa ini karena generasi muda kita mulai tidak paham dimana mereka berdiri, padahal sebagai generasi harapan bangsa, generasi muda harus sadar bahwa mereka berdiri di rumah bangsa Indonesia yang disebut sebagai Rumah Pancasila. Mengapa demikian? rumah berarti tanah air bangsa adalah kampung halaman yang harus selalu dijaga, dirawat dan diamanahkan segala kekayaan dan potensi dari alam, manusia dan budayanya di bangsa dan negara Indonesia ini.

Sedangkan Pancasila berarti pedoman hidup dari setiap insan yang berbangsa dan bernegara Indonesia dimanapun ia berada, karena sejatinya Pancasila adalah jatidiri bangsa dan negara kita. Artinya gaya hidup yang dilakukan oleh setip anak bangsa adalah gaya hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung disetiap sila-sila dari pancasila. seperti nilai relijius, nilai kemanusiaan, nilai persatuan bangsa dan negara, nilai musyawarah dan nilai keadilan. Sehingga budaya-budaya asing yang masuk melalui globalisasi dan merusak nilai-nilai jati diri bangsa akan dengan sendirinya tertolak dan kita tetap menjadi bangsa yang berkarakter dan dihormati.

Cara memandang rumah kita atau Rumah Pancasila juga harus menggunakan kacamata yang besar dan objektif, karena faktanya kita memiliki beraneka ragam kekayaan budaya, mulai dari bahasa, adat istiadat , kebiasaan dan lain sebagainya yang perlu disikapi dengan kacamata kebangsaan “Bhinneka Tunggal Ika” yaitu beraneka ragam budaya tetapi satu tujuan”.

Seperti misalnya keragaman dalam berpakaian, di Indonesia saat ini ada masyarakat yang dalam berpakain semua serba tertututp sampai hanya matanya yang keliatan (jilbab penuh),tapi juga ada masyarakat yang serba terbuka sampai hanya “burung”nya yang tertutup (masyarakat Papua yang menggunakan koteka). Artinya lihatlah keragaman itu sebagai sebuah kekayaan modal untuk sampai tujuan nasional, dan bukan sebagai perbedaan yang dipermasalahkan sehingga memecah belah persatuan.

Globalisasi membawa nilai-nilai dari negara lain yang berbeda dengan nilai-nilai jati diri bangsa kita Pancasila, Bhinneka tunggal ika, NKRI, UUD 1945 dan lainnya. Nilai-nilai yang berbeda tersebut ada yang buruk dan ada yang baik. Pemuda/i bangsa harus dapat memilih untuk ambil yang baik dan buang yang buruk. Nilai jati diri bangsa dengan nilai positif globalisasi dirangkum menjadi nilai baru : NEO NASIONALISME. Tidak anti asing tapi pegang teguh prinsip tujuan negara dan kepentingan nasional.
Maka tidak ada pilihan lain, generasi muda Indonesia harus sadar apa kondisinya apa situasinya dalam globalisasi ini. Generasi muda harus ingat lagu “bangun tidur” dari Ibu Kasur. Bagaimana lirik dari lagu sederhana tersebut tapi sangat sarat makna tentang karakter pemimpin yaitu disiplin , jujur dan bertanggung jawab. Karena setiap kita adalah pemimpin, minimal bagi diri sendiri.

PELUANG

Penguasaan kompetensi Teknologi adalah kewajiban bagi pelaku ekonomi Indonesia untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) merupakan sebuah pintu gerbang menuju produktifitas dan efisiensi. Lihat saja fenomeda Go-Jek, bagaimana transaksi ekonomi produk jasa transportasi motor ini meningkat pesat dan efisien sistem kerja. Ketika Ojeg pangkalan membuang waktu dan peluang dengan terpaku diam menunggu pelanggan , Go-jek dengan sistem komunikasinya produktif bertransaksi sambil kerja mobile.

Artinya banyak peluang-peluang lain diberbagai produk jasa dan barang untuk dikaji dan dikembangkan menjadi sebuah sistem informasi dan komunikasi yang menunjang produktifitas dan efisiensi sistem kerja. Lihat dan amati disekeliling kita, tukang sayur, pedagang mainan, pengamen, tukang es cendol dan lain-lainnya pasti memiliki potensi untuk di kembangkan secara ekonomi.
Peluang lain bagi tenaga kerja TIK adalah content creator alias pencipta konten untuk berbagai media berbasis Internet. Ada banyak keragaman budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia yang memiliki nilai ekonomis. Seperti misalnya saat lebaran ada budaya mudik, maka menjadi peluang bagi seorang content creator yang menyediakan informasi tentang kemacetan sehingga membantu pemudik terhidar dari macet dan disisipi iklan sponsor Rumah Makan atau Restauran.

Sebenarnya asal kita mau menggali kekayaan budaya dan adat istiadat tersebut pasti ada peluang-peluang bagi tenaga kerja TIK untuk membuat karya-karya yang bernilai ekonomi dan merangsang produktifitas dan efisiensi bangsa ini agar bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Jangan sampai kita menyesal ketika kekayaan keragaman bangsa ini justeru dimanfaatkan oleh bangsa lain.

GLOBALISASI DAN OPTIMISME

Generasi muda harus melihat globalisasi ini sebagai sebuah kesempatan besar, dimana anak bangsa yang jauh berada dipelosok pedalaman meskipun terkungkung jarak, tetapi dengan menggunakan internet tetap harus memiliki kemauan dan mimpi untuk berprestasi di tingkat dunia internasional. Jangan pernah berpikiran sempit dan membatasi potensi diri dengan menghakimi diri bahwa “anak desa hanya akan sampai tingkat desa saja”, pada saat itu tanpa sadar berarti kita telah mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berputus asa dan membatasi potensi diri.

Semangat generasi muda harus konsisten untuk bermimpi dan berjuang mewujudkannya melalui kerja keras pada setiap kesempatan yang ada. Bersekolah atau bekerja keluar negeri untuk mengejar cita-cita menjadi ahli di bidang tertentu atau menjadi pemimpin di perusahaan multinasional adalah sebuah prestasi tingkat dunia akan tetapi agar jangan pernah lupa akan asal-usul dengan tetap menjaga jatidiri sebagai anak bangsa dan negara Indonesia dengan Pancasila-nya, karena itulah sejatinya nasionalisme di era globalisasi yaitu neo-nasionalisme, yang artinya tidak anti asing tetapi mengambil hal-hal positif dari dunia luar (global) untuk melanjutkan perjuangan dan cita-cita bangsa menghadapi tantangan-tangan jaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *