TETESAN AIR MATA BERSAMA KANG AGUN

Terlahir di lingkungan sederhana di Pamarican, kang Ojak kecil sudah gemar, dan senang menonton pertunjukan wayang Golek. Dengan ketekunan, dan rasa kepenasarannya, dia mencoba untuk membuat sebuah wayang golek impiannya.

“Saya mencoba mencari kayu kehutan, dan memanfaatkan perkakas seadanya, tanpa putus asa saya terus berusaha belajar membuat kesenian tradisional itu. Saya belajar dengan melihat gambarnya, bentuknya, warnanya, karakternya, juga cara memainkannya” kata kang Ojak.

Sejak sekolah SD, lalu SMP ia sudah bisa membuat wayang sendiri . Sampai di usia remaja, meskipun pergaulan sudah mulai berubah dia tetap istiqomah akan cintanya pada kesenian tradisional wayang Golek.

Meskipun tak sedikit orang yang mencibir, menertawakan, bahkan mengejek bahwasannya “buat apa ngurusin yang kaya gitu, lebih baik kerja aja yang bener, Ke kota , berdagang  atau pekerjaan lainnya juga masih banyak”, kata orang-orang.

Tapi dengan ke ikhlasan dan kegigihan, kang Ojak tidak tergoyahkan sedikitpun akan hobi nya membuat wayang.

Bahkan setelah akhirnya menikah pun dan di karuniai seorang anak lelaki, kang Ojak tetap fokus bekerja membuat wayang golek sebagai bentuk usaha dan ikhtiarnya untuk menafkahi keluarga kecil nya.

Dan seiring berjalannya waktu, memang benar “Proses tidak akan menghianati hasil”, Sedikit demi sedikit mulai ada orang yang melirik, dan meng apresiasai wayang Golek buatannya. Alhamdulilah.

Namun secara tiba-tiba pandemi Virus Corona membuat seluruh elemen ekonomi terhempas cukup dalam, tidak terkecuali bagi pelaku usaha kecil seperti kang Ojak, mengaku kewalahan sebab pendapatannya tiap hari terus menurun. Ditambah kewajiban membayar cicilan modal usaha yang tidak sedikit membuatnya semakin kebingungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, kuasa Tuhan berbeda dengan apa yang di bayangkan oleh manusia, Alloh menggerakan kaki seorang sosok wakil rakyat, yang cinta akan rakyat nya, peduli, dan tak kenal lelah terus menyapa, dan dan menjumpai masyarakat yang ia wakili.

Ya.., kang Agun Gunandjar Sudarsa namanya.

Kang Agun menemui dan datang langsung ke kediaman kang Ojak dan dengan senyum serta santunnya, kang Agun duduk dan mendengar suara hati kang Ojak.

Sampai seketika suara kata-kata pun terhenti dari mulut kang Ojak, yang terlihat hanya linangan air mata, dan wajah yang tertunduk pilu mencurahkan rasa haru, bangga, bercampur bahagia. Sungguh terasa Kebesaran Alloh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang pada saat itu, karena masih ada sosok manusia yang peduli, mendengar dan merangkul dengan sesama manusia.

Dengan bijak kang Agun berkata . . .

“Saudaraku, Terkadang kita lebih sering berpikir terlalu jauh untuk menaklukan sesuatu. Padahal, tantangan terbesar adalah menaklukan diri sendiri. Yakin saja, setiap tantangan yang hadir dalam perjuangan kita adalah cara Allah membuat kita layak untuk berhasil.”

Orang yang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata.

Terimaksih kang Agun, jasamu akan selalu kami ingat, perjuangan dan pengorbananmu akan selalu kami jadikan spirit, untuk terus berkarya, terus ber inovasi. Sebagaimana yang selalu kang Agun ajarkan lewat filosofi hidupnya, “Bahwasannya Tiada hari tanpa aktifitas, Tiada hari tanpa berkaryasalam sukses dengan “LIMA JARI”. Hidup sulit jangan di persulit, yakin niatkan ibadah, dengan penuh ke ikhlasan, ke istiqomahan, Alloh pasti menjawab semuanya dengan keindahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *